Ads (728x90)


Kepemimpinan seorang pemimpin yang sehat sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satunya ialah faktor kepribadian pemimpin Kristen. Bila kepribadian seorang pemimpin tidak sehat, maka akan mempengaruhi caranya menjalankan kepemimpinannya. Karena itu seorang pemimpin Kristen, disamping harus sudah lahir baru, ia haruslah memiliki kepribadian yang matang/dewasa, antara lain: 

1. JUJUR. 
      Seorang pemimpin harus memiliki kejujuran baik terhadap orang lain maupun diri sendiri.  Jujur berarti tidak bercabang lidah, bertindak sportif, terbuka dan berani mengakui kesalahan serta tidak mencari “kambing hitam”.  Hal ini tidak akan menurunkan wibawa kita, malah membuat orang lain makin respek/menghargai kita. 

2. MENJAGA KESUCIAN.  
Kesucian memberikan wibawa rohani dan urapan Allah kepada seorang pemimpin.  Namun kesucian bukan berarti kita tidak pernah gagal atau salah, tapi sikap dimana kita senantiasa rela diperbaiki dan cepat menyelesaikan kegagalan, dosa dan kesalahan. Makin tinggi kerohanian seseorang, makin mudah ia mengaku dosa dan membereskannya.  Orang yang mudah mengaku dosa, mudah menerima pengampunan. 
3. MEMILIKI PENDIRIAN ROHANI YANG TEGUH. 
Pemimpin harus memiliki landasan rohani yang kokoh, tidak berkompromi dalam mengambil keputusan karena mendengar pendapat orang atau membaca buku saja.  Pemimpin juga harus tegas, artinya konsekwen dengan apa yang sudah digariskan.  Tegas berarti berani mengoreksi anak buah yang salah, namun dengan kasih (Ams. 28:23). 
4. DISIPLIN.  
Sifat ini sangat penting karena tanpa disiplin maka karunia-karunia yang lain, betapa pun besarnya, tidak akan berkembang dengan sepenuhnya. Seorang pemimpin dapat memimpin orang lain, karena ia telah mengalahkan dirinya sendiri. Seorang pemimpin adalah orang yang pertama-tama telah menyerahkan dengan sukarela dan belajar untuk mentaati disiplin yang berasal dari luar dirinya, tetapi yang kemudian menaklukkan dirinya sendiri pada disiplin yang lebih keras dari dalam.  Mereka yang memberontak terhadap penguasa dan meremehkan disiplin pribadi, jarang yang cakap menjadi pemimpin pada tingkat atas.  Orang yang berkaliber pemimpin akan bekerja sementara orang lain membuang-buang waktu, belajar pada waktu orang lain tidur, dan berdoa pada waktu orang lain bermain.  
5. KEBERANIAN. 
Keberanian adalah sifat pikiran yang memungkinkan orang untuk menghadapi bahaya atau kesukaran dengan keteguhan, tanpa rasa takut atau kecil hati. Martin Luther memiliki sifat yang penting ini dalam ukuran yang luar biasa. Dia berkata, “Saya tidak merasa takut sedikitpun; Allah dapat membuat orang begitu berani.  Tingkat keberanian yang paling tinggi dapat dilihat dalam pribadi yang paling penakut, tetapi yang tidak mau menyerah kepada ketakutan.” Keberanian seorang pemimpin dinyatakan dalam hal ia rela menghadapi kenyataan yang tidak enak dengan ketenangan hati yang teguh. 
6. KERENDAHAN HATI. 
Di bidang politik, kerendahan hati bukanlah suatu sifat yang diinginkan atau diperlukan. Tetapi menurut ukuran Allah, kerendahan hati mendapat tempat yang sangat tinggi.  Tidak menonjolkan diri, tidak mengiklankan diri, adalah definisi yang diberikan Kristus untuk kepemimpinan.  Seorang pemimpin rohani akan memilih pelayanan yang penuh pengorbanan  yang tidak digembar-gemborkan, bukan tugas yang megah dan pujian yang berlebihan dari orang-orang yang tidak rohani.  Rendah hati beda dengan rendah diri/minder, tapi terbuka untuk menerima kritik dan memperbaiki kekurangan diri. Contoh: Paulus merendahkan hati agar tujuan Injil tercapai ( I Kor 9:22-23). 
7. RAJIN, MAU BEKERJA KERAS.  
Tak ada hal besar yang bisa dicapai bila pemimpin malas dan tidak mau bekerja keras.  Kerajinan, kerja keras disertai keuletan, itulah yang membuat kepemimpinan seseorang menjadi efektif.  Pemimpin dituntut bekerja lebih daripada orang yang dipimpinnya.  Terutama bekerja dengan pikiran, strategi, pengertian dan kasih.  Keberhasilan tidak diraih dalam sekejap.  Mereka bekerja keras di malam yang gelap ketika orang lain tertidur lelap.  Untuk itu dibutuhkan disiplin diri yang teguh.  Seorang pemimpin dapat memimpin orang lain karena ia telah mengalahkan dirinya sendiri. 
8. RELA BERKORBAN/MENDERITA. 
Pemimpin yang tidak rela berkorban (termasuk mengorbankan harta milik) tidak akan berhasil.  Perhatikan teladan Yesus yang bahkan rela mengorbankan hidup-Nya bagi umat manusia.  Pemimpin rohani juga harus sungguh-sungguh berjuang dan bergumul dalam pelayanan.  Kemajuan pekerjaan Tuhan seringkali menuntut kerelaan menderita dari si pengerjanya.  Lihat: Mazmur 126:5-6. 
9. KESABARAN 
Kesabaran adalah keteguhan hati untuk tahan menderita demi kemenangan, menerima dengan gagah dan berani segala sesuatu yang dapat menimpa kita di dalam hidup ini, dan mengubah keadaan yang paling buruk sekalipun menjadi satu langkah ke arah yang lebih tinggi.  Kesabaran adalah kesanggupan yang memungkinkan orang melampaui keadaan krisis dengan tabah, dan dengan gembira selalu menyambut yang tidak terlihat. 
10. MEMPERHATIKAN.  
Pemimpin harus peduli kepada pengikutnya, seperti ibu yang mengasuh dan merawat anaknya, dan seperti bapa yang menasehati dan menguatkan hati anaknya (I Tes. 2:7-8, 11).  Orang tidak peduli berapa banyak yang anda tahu, sampai orang tahu berapa banyak anda peduli. Seorang pemimpin sejati sanggup memperkaya kehidupan orang yang dipimpinnya.  Ia senang melihat mereka maju dan tidak menganggapnya sebagai saingan.  Ini terjadi karena ia memiliki “hati Bapa”. 
11. HIKMAT. 
Hikmat adalah pengetahuan dengan pengertian sedalam-dalamnya terhadap inti persoalan, dan mengenalnya sebagaimana adanya.  Di dalam hikmat termasuk pengetahuan akan Allah dan segala seluk beluk tentang hati manusia.  Hikmat jauh lebih luas daripada pengetahuan; hikmat merupakan penerapan yang benar daripada pengetahuan di dalam persoalan-persoalan moral dan rohani, dalam menghadapi keadaan yang membingungkan dan kerumitan hubungan manusia. Hikmat lebih daripada kecerdasan manusia, hikmat adalah ketajaman sorgawi. Menurut Theodore Roosevelt, hikmat sembilan persepuluhnya adalah sikap bijaksana pada waktunya.Pengetahuan diperoleh melalui belajar, tetapi pada waktu Roh Kudus masuk, Ia memberikan hikmat untuk memakai dan menerapkan pengetahuan itu dengan tepat.  
12. PENUH DENGAN ROH KUDUS.  
Kepemimpinan rohani hanya dapat dilakukan oleh orang yang penuh Roh.  Ini adalah syarat mutlak. Tanpa perlengkapan penting ini, seseorang tidak akan dapat menjadi seorang pemimpin rohani yang sejati (Kisah 1:8; 6:3,5).

Posting Komentar

sobat coment
itu lebih berharga