Dengan Nama Allah Yang Maha Kasih dan Maha Sayang
Kami tuangkan arti pentingnya wukuf di wahai anak2KU, dengan ilustrasi penuturan dari seoramg Bapak/Bunda terkasih kepada anaknya tersayang, hanya kasih sayang inilah yang terdekat yang bisa kita dapat selain Dari yang MAHA,....
Wukuf
adalah salah satu rukun haji. Salah satu rukun dari sekian banyak rukun
haji yang paling utama. Wukuf bermakna berhenti. Berasal dari kata
kerja waqafa-yaqifu artinya berhenti atau berdiam.
Secara
Syar’ie, wukuf itu berdiam diri di padang Arafah pada tanggal 9
Dzulhijjah dimulai sejak tergelincirnya matahari (setelah jam 12 siang)
waktu dzhuhur hingga waktu maghrib dengan tata cara yang telah
ditentukan secara syar’ie. Padang Arafah adalah salah satu daerah di
seputar Mekkah.
Secara
maknawi, wukuf berarti menghentikan seluruh kesibukan akal dalam rangka
bercermin, mengintrospeksi dan mengenal diri untuk kemudian mengenal
Allah. Arafah secara maknawi bermakna ma’rifah, yaitu mengenal. Ia
berasal dari kata kerja ‘arafa-ya’rifu yang artinya mengenal. Dalam hal ini, makna mengenal diarahkan untuk hanya sekedar mengenal Allah.
Rasulullah saw bersabda :
الحَـجُّ هُوَ عَـرَفَةٌ
“Haji adalah wukuf di Arafah”
Wukuf
adalah puncak dari sekian banyak rangkaian ibadah haji. Karena itu,
Rasulullah saw memberikan sinyal tentang penisbatan wukuf kepada ibadah
haji itu sendiri. Haji itu ya wukuf di Arafah. Mengapa ia menjadi puncak
dari ibadah haji ?
Sesuai
dengan namanya bahwa wukuf adalah berdiam, berkontemplasi, bertafakkur,
dan bertadabbur. Berdiam di sini bertujuan untuk mengenal dan membaca
diri. Mengenal diri mengandung implikasi logis bahwa ibadah haji itu
bermakna juga mengenal Allah. Tidak ada hal yang lebih tinggi dari
mengenal Allah. Jika ibadah haji adalah salah satu rukun Islam yang
paling tinggi derajatnya, maka wukuf menempati derajat yang paling
tinggi dari sekian banyak aktifitas ibadah haji.
Setelah
sebelumya memakai pakaian ihram yang bermakna mengharamkan diri dari
segala yang dilarang dalam aturan-aturan ihram, maka wukuf adalah
perjalanan selanjutnya dari proses pengharaman diri itu. Artinya,
strategi untuk mengenal Allah hanya dapat dicapai semata-mata dengan
menjaga diri dari segala sesuatu yang dilarang (oleh Allah).
Pelarangan-pelarangan ketika berihram adalah simbolisasi tentang sebuah
pencapaian keadaan fitrah, yakni keadaan asli dimana Allah swt sendiri
menjadi Pengambil ikrar akan sebuah kesaksian. Kesaksian awal tentang
sebuah pengakuan hamba dan statemen Tuhan. Statemen Allah swt itu adalah
:
dan
(ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari
sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya
berfirman): “Bukankah aku ini Tuhan kalian?” mereka menjawab: “Betul
(Engkau Tuhan kami), kami telah menyaksikannya”. (kami lakukan yang
demikian itu) agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan: “Sesungguhnya
kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan
Tuhan)” (al-A’raf (7) : 172)
Mengapa Tuhan mesti dikenali melalui wukuf ?
Wukuf
di padang Arafah merupakan simbolisasi dari zona ruhani. Sebuah pola
untuk berma’rifat. Tak ’kan ada sebuah pencapaian tanpa memberhentikan
gerak kehidupan terlebih dahulu. Dan gerak kehidupan itu bertitik pusat
pada akal pikiran. Memberhentikannya dalam gerak kehidupan bermakna
mengembalikannya pada kondisi awal. Dari sinilah, seorang yang
menjalankan wukuf memulai untuk bertaraqqi kepada alam asalnya.
Jendela
terhadap dunia penampakan yang bertitik pusat pada akal pikiran itu
terletak pada panca indera. Indera penglihatan, pendengaran, penciuman,
perasa dan peraba, semuanya berpusat pada akal. Partikel-partikel dunia
masuk melalui panca indera tersebut. Partikel-partikel dunia itulah yang
membuat segala macam keramaian di dunia. Ia harus dikembalikan pada
fitrahnya dengan cara menutup semua lobang panca indera melalui wukuf.
Akal pikiran dimurnikan kembali sehingga ia tidak bergeser terlalu jauh.
Menghentikan
gerak akal sementara waktu bertujuan untuk menenangkannya. Akal yang
tenang akan tunduk pada jiwa yang tenang. Jiwa yang tenang adalah jiwa
yang bisa kembali kepada Tuhannya. Ke arah sanalah agama mengajarkan
para pemeluknya agar senantiasa mencapai satu titik ketenangan yang bisa
membawa dirinya kepada hakekat kejadian awal. Kejadian awal manusia
adalah ikrarnya dalam mengenal Tuhan. “alastu birabbikum, qooluu balaa syahidnaa”, bukankah Aku ini Tuhan kalian, mereka berkata; “ya kami telah bersaksi”.
Akal
yang tenang akan selalu tunduk pada jiwa yang tenang. Akal yang tenang
akan mendapatkan suntikan energy, sehingga daya tampungnya menjadi lebih
luas. Pandangannya tajam terhadap tanda-tanda alam. Sensitifitas
kecerdasannya akan selalu membawa kemaslahatan bagi lingkungan dan alam
semesta.
27.
Hai jiwa yang tenang. 28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang
puas lagi diridhai-Nya. 29. Maka masuklah ke dalam jama’ah
hamba-hamba-Ku, 30. Masuklah ke dalam syurga-Ku. (al-Fajr : 27-30).
Gerak
akal yang muncul dari panca indera, menjadikannya terbebani oleh
persoalan-persoalan dunia. Dunia telah menarik fungsi akal dan mengikat
kuat manusia sehingga ia menjadi bodoh, lemah dan terpuruk. Belenggu
dunia telah membawa akal sehingga ia tidak mampu berpikir untuk
soal-soal yang sangat sederhana. Akal telah terpenjara oleh penampakan
panca indera. Sifat-sifat buruk yang muncul dan menjadi penyakit hati
berasal dari dunia penampakan yang masuk dari panca indera. Kebencian,
kedengkian, iri hati, sombong, riya, sum’ah, buruk sangka, sakit hati,
dan penyakit-penyakit lainnya telah menjerumuskan manusia menjadi
makhluk yang sangat kerdil dan terhina. Saat itulah manusia telah
menjadi bodoh.
Belenggu
dunia yang mengikat kuat akal pikiran manusia adalah berhala yang
nyata. Ia bukan berada di luar diri, tetapi di dalam diri. Ia membentuk
sebuah gambar yang membuat manusia menjadi senang ataupun susah.
Gambar-gambar yang muncul di dalam bayangan akal pikiran telah
membelenggu dan menjadi penghalang bagi manusia untuk menuju Tuhannya.
Ahmad Baihaqi
Posting Komentar
sobat coment
itu lebih berharga